
Mengirup Manisnya Reda
belum puas mencium harum
terkulai, kelopakmu gugur
jangan kau tangisi
kembangnya menjadi pusara
Tuha...
seperti sebelai kertas
dada ini ditoreh
tusukan demi tusukan
bait-bait nistamu
bercakaran menyiat luka
maruah ini direnyuk
cengkaman dan penangan dusta
dari hujung lidah pedangmu
setiap jelirannya membara
meranapkan astaka jiwa
setelah tersungkur, baru aku mengerti
perihnya keringat menanam budi
kusemai kasih di bendang bakti
tapi yang tumbuh
biadap lalang yang menjalar tinggi

























































