
Mengirup Manisnya Reda
belum puas mencium harum
terkulai, kelopakmu gugur
jangan kau tangisi
kembangnya menjadi pusara
Tuha...
jiwa terlarut dalam garam badai
yang menumbangkan pohon-pohon
dan kemesraan kita telah musnah
seperti wuduk dibatalkan hadas
oleh cetusan api perselisihan
lalu kita pun sepertinya meredai terbinanya jarak
antara pantai dengan pulau
namun ilmu dan amal justeru terpisah tiada
buat selama-lamanya
seumpama si Muslim pasti memelihara solat
kata ustaz “tiang agama”
ketika nama-Mu kuseru penuh rindu
besarnya rasa ingin bertemu
lantas jiwaku kembali lembut menghampar sutera
tenang dan sejahtera
pada daun-daun tak pernah resah
tatkala dipeluk biji-biji embun yang jernih dan sejuk
di jendela pagi
selalu menerbangkan burung-burung ke padang
demi mengisi perut agar kemyang
mereka sangat tahu belalang
tak hinggap di ujung paruhnya

























































